Kebiasaan Melamun, Baik atau Buruk? Tergantung Anda

Kebiasaan Melamun, Baik atau Buruk?

Di zaman sekarang, banyak orang berprinsip: “Hey, Jalani apa yang harus di jalani. Lupakan masa lalu. Jangan khawatirkan masa depan!” Ya, pameonya sering kita dengar; banyak dicuitkan di social media: “Live in the now“, jalani yang sekarang. Banyak orang memutuskan “mengalir” dan mengikuti apa yang terjadi di sekitar. Kita seharusnya tidak perlu khawatir tentang masa depan, meragukan diri sendiri, atau memikirkan masa lalu secara mendalam. Kita seharusnya lebih memikirkan apa yang nyata sekarang. Mengapa tidak memilih menghirup harumnya mawar saja di pekarangan rumah, daripada memikirkan sesuatu yang belum jelas? Hmmm…. Terdengar indah bukan? Pada artikel ini, saya akan akan mengajak melihat lebih dalam prinsip-prinsip itu melalui fenomena kebiasaan melamun, kebiasaan yang setiap orang pasti pernah mengalaminya. Apakah sepenuhnya benar cara berpikir demikian?

kebiasaan melamun

Kebiasaan Melamun

Apapun maksud dan tujuannya, melamun dipicu oleh apa yang disebut sebagai ‘default mode network‘ (jaringan modus bawaan), yaitu serangkaian area otak yang akan aktif jika seseorang dalam kondisi tidak berpikir atau melakukan pekerjaan /aktivitas yang tidak membutuhkan pemikiran dan fokus (atau dalam porsi yang sangat sedikit), misalnya saat berjalan sendirian, mencuci piring, berdiam diri, dan (maaf) saat buang air besar. Namun demikian, nampaknya melamun juga bisa menjadi aktivitas yang disengaja. Anda memutuskan untuk melamun, maka dalam tahap dan durasi tertentu anda bisa terbawa dalam lamunan (merenung).

Bagian otak yang terlibat dalam aktivitas melamun termasuk ke dalam area medial prefrontal cortex (korteks prefrontal medial), bagian dari lobus temporal medial dan beberapa singulata posterior. (selengkapnya di wikipedia mengenai prefrontal cortex) Dinamakan demikian karena strukturnya telah aktif sebagai lawan dari task-positive network(jaringan tugas positif).

Tapi yang serba ilmiah di atas kurang begitu penting untuk mengisi pengetahuan dasar kita, yang terpenting adalah kita tahu bahwa korteks preforontal medial bertanggungjawab terhadap munculnya lamunan dan akan aktif bila kita berhenti beraktivitas aktif, diikuti dengan munculnya refleksi, dan berpuncak pada melamun. Banyak teori menyebut aktivitas melamun sebagai “rasa ingin tahu” dan berpendapat bahwa kebiasaan melamun merupakan aspek krusial dari kreativitas.

Melamun dan Kreativitas

Sangat masuk akal apabila kita mencermati kebiasaan melamun erat dengan momen-momen penemuan kreatif. Sudah banyak yang menemukan gagasan saat dalam kondisi “diam”. Einstein misalnya, menghadirkan gagasan teori relativitas khusus saat sedang melakukan rutinitas pekerjaan yang dia lakukan sehari-hari di kantor paten. Banyak cerita sejenis lainnya yang umumnya berkaitan dengan penemuan, penciptaan gagasan, dan kreativitas di saat sedang berjalan-jalan di hutan, duduk berdiam, dan melakukan pekerjaan rutin. Jarang ditemui penemuan kreativitas yang “disengaja” dan dengan “fokus penuh”.

Sebagai penulis, saya cenderung mendapatkan topik, gagasan, dan rangkaian tulisan yang sistematis bukan pada saat berada di depan laptop, melainkan saat diam, merenung, dan menggali ide sebanyak-banyaknya. Bisa dibilang akhirnya harus terbang ke dalam lamunan demi lamunan. Baru setelah itu semua yang sudah didapat dituangkan dalam bentuk tulisan. Sedangkan jika harus memaksa diri menulis langsung, dan sudah berada di depan laptop, tangan siap menari di atas keyboard, otak seperti tumpul, mati rasa, tidak tahu harus menulis apa. Kasus sejenis saya yakin pasti juga terjadi pada setiap orang yang melibatkan kreativitas di dalam pekerjaannya.

Nah, sekarang pertanyaannya: mengapa kondisi rileks dan melamun bisa berpengaruh positif terhadap kreativitas? Karena kedua kondisi tersebut memberikan kesempatan pada otak untuk “mengutak-atik” dan “meliuk-liukkan” pikiran serta memori dengan tujuan menggali solusi dalam menyelesaikan masalah. Peran lobus temporal medial di dalam jaringan modus bawaan membuka akses ke dalam memori, sementara korteks prefrontal medial membuat kita mampu membayangkan aksi-aksi yang dilakukan, dan korteks singulata posterior menggabungkan keduanya. Dan ini hanya terjadi secara penuh jika kita dalam keadaan rileks (tidak dalam aktivitas yang membutuhkan pikiran dan fokus) dan melamun.

Dalam konteks ini, maka melamun sekaligus melakukan refleksi juga bisa kita rangkaikan menjadi istilah yang cukup kita kenal: merenung. Namun demikian konteks merenung lebih kepada aktivitas melamun yang disengaja atau direncanakan, sehingga kemudian refleksi yang terjadi juga bersifat terencana.

Melamun diikuti refleksi seringkali membuat kita mampu mengintelektualisasikan konsep; dan tentu saja tidak ada yang salah dengan ini. Hal ini hanya terjadi mulai usia menjelang dewasa, dan tidak muncul pada bayi maupun anak-anak. Lamunan anak-anak lebih kepada proses imajinasi demi memenuhi fantasi atau khayalannya, meski bisa jadi saat dewasa atau menjelang dewasa dia menyadari dan memutuskan konsisten dengan impian masa kecilnya; lalu berusaha merealisasikannya.

Peran Melamun Lainnya

Melamun juga punya beberapa manfaat lain. Melamun membuat kita mampu merefleksikan hal yang sudah atau pernah kita alami, sehingga kita mampu berbuat lebih baik di masa depan dan mampu mengapresiasi apa yang telah kita lakukan. Melamun memampukan kita mengenang cerita dan merencanakan masa depan. Jika direspon secara positif, melamun juga bisa membuat kita berpikir dan terhindar dari melakukan kesalahan bodoh.

Ya, ya, ya. Nikmati apa yang harus dialami dan dilakukan sekarang. Tapi pastikan pada saat yang bersamaan anda tidak menganggap remeh arti “melamun” dan sisihkan waktu bagi diri sendiri untuk melamun, mencari tahu solusi, dan mengagumi gagasan-gagasan kreatif yang anda ciptakan.

Penilaian di Tangan Anda

Ya, memang. Melamun pasti juga memiliki efek buruk jika tidak dikontrol, diarahkan, dan ditujukan untuk hal positif. Melamun juga bisa membuat kita membayangkan dan memikirkan tindakan-tindakan bodoh saat sedang frustrasi, stress, cemas, dan depresi karena mental tidak sedang dalam kondisi jernih. Kebiasaan melamun terlalu lama juga tidak baik. Melamun di tengah jalan yang ramai tentu juga berbahaya. Seorang daydreamers (tukang melamun) belum tentu bisa dikatakan sebagai orang yang kreatif, jika lamunan-lamunannya tidak membawa efek positif dan tetap membuatnya berada di alam khayalan.

Maka baik buruknya, kontrolnya, ada di tangan anda. Jadi, sambil melamun, mungkin anda bisa melamunkan arti melamun bagi diri anda.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *