Penyebab Sakit Gigi Saat Gigi Tumbuh dan Solusinya

Sakit gigi saat gigi tumbuh bisa terasa sangat mengganggu. Kadang nyerinya muncul saat makan, kadang berdenyut di malam hari, bahkan bisa membuat rahang kaku dan sulit dibuka.

Keluhan ini tidak hanya dialami anak-anak. Pada remaja akhir dan orang dewasa muda, rasa sakit sering muncul saat gigi bungsu mulai tumbuh di bagian paling belakang rahang. Menurut NHS, gigi bungsu biasanya muncul pada usia remaja hingga awal 20-an, meski masalahnya tetap bisa terjadi pada usia berapa pun.

Sakit gigi saat gigi tumbuh biasanya terjadi karena gigi baru menekan atau menembus jaringan gusi. Pada orang dewasa muda, penyebab yang cukup sering adalah gigi bungsu tumbuh miring, kekurangan ruang di rahang, atau hanya keluar sebagian sehingga memicu nyeri, bengkak, dan radang gusi.

Mengapa Pertumbuhan Gigi Baru Bisa Memicu Rasa Sakit?

Saat gigi baru tumbuh, mahkota gigi perlu menembus lapisan gusi. Proses ini bisa membuat gusi terasa nyeri, sensitif, atau seperti tertekan dari dalam.

Pada gigi bungsu, rasa sakit sering lebih terasa karena posisinya berada di bagian paling belakang mulut. Area ini juga sulit dibersihkan, sehingga sisa makanan dan bakteri mudah menumpuk.

Jika ruang rahang tidak cukup, gigi bungsu bisa tumbuh miring, hanya muncul sebagian, atau terjebak di dalam gusi dan tulang rahang. Kondisi ini disebut impaksi gigi.

Dikutip dari meta-analysis tahun 2024 dalam Journal of Clinical Medicine, tinjauan terhadap 98 studi dengan 183.828 subjek menemukan bahwa 36,9% orang memiliki setidaknya satu gigi bungsu impaksi. Jadi, nyeri akibat gigi bungsu tumbuh miring bukan keluhan yang jarang terjadi.

Gejala Gigi Bungsu Tumbuh yang Perlu Diwaspadai

Gejala gigi bungsu tumbuh tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang hanya merasa nyeri ringan, tetapi ada juga yang mengalami bengkak, sulit mengunyah, atau rasa sakit yang menjalar ke rahang.

Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:

  • Nyeri gusi di bagian belakang mulut.
  • Bengkak di sekitar rahang belakang.
  • Sulit membuka mulut dengan nyaman.
  • Sakit saat mengunyah atau menggigit.
  • Gusi merah, lunak, atau terasa berdenyut.
  • Bau mulut karena sisa makanan mudah tersangkut.
  • Rasa tidak enak di mulut.
  • Nyeri yang menjalar ke rahang, telinga, atau kepala.

Nyeri ringan yang cepat membaik biasanya masih bisa dipantau. Namun, menurut NHS, pemeriksaan ke dokter gigi perlu dilakukan jika sakit gigi berlangsung lebih dari 2 hari, tidak membaik, disertai demam, nyeri saat menggigit, gusi merah, rasa tidak enak di mulut, atau pipi dan rahang bengkak.

Masalah Kesehatan Mulut yang Bisa Muncul

Mengatasi nyeri saat gigi bungsu tumbuh dan peradangan pada rahang
Mengatasi nyeri saat gigi bungsu tumbuh dan peradangan pada rahang

Gigi bungsu yang tidak tumbuh sempurna dapat memicu beberapa masalah. NHS menyebut gigi bungsu bermasalah bisa menyebabkan nyeri, bengkak, perikoronitis, makanan tersangkut, gigi berlubang, penyakit gusi, kista, hingga abses gigi.

1. Radang Gusi dan Perikoronitis

Perikoronitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan gusi di sekitar gigi yang baru tumbuh sebagian. Kondisi ini sering terjadi saat sebagian permukaan gigi bungsu masih tertutup lipatan gusi.

Lipatan tersebut bisa menjadi tempat sisa makanan dan bakteri berkumpul. Akibatnya, gusi terasa nyeri, bengkak, kemerahan, dan kadang menimbulkan bau mulut.

Dikutip dari panduan Faculty of Dental Surgery, Royal College of Surgeons of England, perikoronitis paling banyak ditemukan pada kelompok usia 20–29 tahun dalam sampel 245 pasien. Panduan yang sama juga mencatat 10% dari 130 mahasiswa dengan gigi bungsu sebagian tumbuh mengalami perikoronitis selama pemantauan 4 tahun.

2. Kerusakan pada Gigi Tetangga

Gigi bungsu yang tumbuh miring dapat menekan gigi di sebelahnya. Tekanan ini bisa membuat area geraham belakang terasa ngilu, terutama saat menggigit atau mengunyah.

Masalah lain, posisi gigi yang miring membuat area belakang mulut lebih sulit dibersihkan. Sisa makanan mudah tersangkut, lalu meningkatkan risiko gigi berlubang pada gigi bungsu maupun gigi di sebelahnya.

3. Pembentukan Kista

Pada beberapa kasus, kantong berisi cairan dapat terbentuk di sekitar gigi bungsu yang tidak tumbuh sempurna. Kondisi ini disebut kista.

Risiko ini tidak perlu membuat panik, tetapi tetap perlu diwaspadai. Menurut studi retrospektif terhadap 9.994 gigi bungsu impaksi yang dicabut, ditemukan 231 kasus kista atau 2,31% dan 79 kasus tumor atau 0,79%. Data ini berasal dari kasus gigi yang sudah dicabut, bukan populasi umum, sehingga perlu dibaca sebagai konteks medis, bukan alasan untuk takut berlebihan.

Solusi Sakit Gigi Bungsu yang Aman

Saat nyeri muncul, tujuan pertama adalah membuat rasa sakit lebih terkendali sambil menunggu pemeriksaan. Beberapa langkah aman yang bisa dilakukan sementara di rumah:

  • Berkumur air garam hangat secara perlahan.
  • Kompres dingin dari luar pipi jika rahang terasa bengkak.
  • Sikat area belakang mulut dengan lembut.
  • Hindari mengorek gusi dengan benda tajam.
  • Gunakan sisi mulut yang tidak sakit saat mengunyah.
  • Pilih makanan yang lebih lembut untuk sementara.

Langkah tersebut hanya membantu meredakan keluhan sementara. Dokter gigi tetap perlu memeriksa kondisi gusi dan arah pertumbuhan gigi. Menurut NHS, dokter gigi dapat melakukan X-ray untuk melihat posisi gigi bungsu, lalu menentukan apakah gigi cukup dipantau atau perlu dicabut.

Jika gigi bungsu tumbuh lurus, memiliki ruang cukup, dan tidak menimbulkan masalah, pencabutan biasanya tidak diperlukan. Namun, jika gigi mengalami impaksi, infeksi berulang, merusak gigi sekitar, atau memicu kista, prosedur pencabutan gigi bungsu atau odontektomi bisa menjadi solusi yang lebih tepat.

Jangan Mencabut Gigi Sendiri Saat Gigi Bungsu Nyeri

Saat rasa sakit memuncak, wajar jika seseorang ingin mencari jalan cepat. Namun, mencabut gigi sendiri bukan solusi yang aman.

Sebagian orang mungkin nekat mencari tahu cara cabut gigi sendiri. Padahal, tindakan tanpa pengawasan medis dapat memicu perdarahan, infeksi rahang, patah akar gigi, hingga kerusakan jaringan sekitar.

Gigi bungsu juga bukan gigi yang mudah ditangani. Letaknya jauh di belakang mulut, dekat dengan jaringan gusi, tulang rahang, dan saraf tertentu.

Jangan dipaksa.

Prosedur penanganan gigi tumbuh miring tentu berbeda dengan cara mencabut gigi berlubang biasa. Pada gigi bungsu impaksi, dokter perlu menilai posisi gigi, kondisi tulang, jaringan gusi, dan risiko komplikasi sebelum menentukan tindakan.

Kesimpulan

Sakit gigi saat gigi tumbuh sering terjadi karena gigi baru menekan gusi, tumbuh miring, atau tidak memiliki cukup ruang di rahang. Pada orang dewasa muda, keluhan ini paling sering berkaitan dengan gigi bungsu.

Tidak semua nyeri berarti kondisi berbahaya. Namun, jika rasa sakit bertahan lebih dari 2 hari, gusi bengkak, muncul demam, atau ada rasa tidak enak di mulut, pemeriksaan dokter gigi sebaiknya tidak ditunda.

Perawatan sederhana di rumah bisa membantu sementara. Namun, pemeriksaan langsung dan rontgen tetap dibutuhkan untuk memastikan arah pertumbuhan gigi dan mencegah komplikasi berkembang lebih jauh.

FAQ

Apakah semua gigi bungsu yang tumbuh harus dicabut?

Tidak. Jika gigi bungsu tumbuh lurus, memiliki ruang cukup, tidak nyeri, dan bisa dibersihkan dengan baik, pencabutan biasanya tidak diperlukan.

Berapa lama rasa sakit saat gigi tumbuh biasanya berlangsung?

Nyeri bisa muncul hilang-timbul selama beberapa minggu hingga bulan. Namun, jika nyeri menetap lebih dari 2 hari atau disertai bengkak, demam, gusi merah, atau rasa tidak enak di mulut, segera periksa ke dokter gigi.

Apa dampaknya jika gigi bungsu tumbuh miring dibiarkan?

Gigi bungsu yang tumbuh miring dapat merusak gigi sebelahnya, membuat area belakang mulut sulit dibersihkan, memicu gigi berlubang, menyebabkan radang gusi, hingga meningkatkan risiko infeksi.

Referensi

NHS. “Toothache.” NHS, 2024. https://www.nhs.uk/symptoms/toothache/

NHS. “Wisdom Tooth Removal.” NHS, 2024. https://www.nhs.uk/tests-and-treatments/wisdom-tooth-removal/

Pinto, Ana Catarina, et al. “Worldwide Prevalence and Demographic Predictors of Impacted Third Molars—Systematic Review with Meta-Analysis.” Journal of Clinical Medicine, vol. 13, no. 24, 2024, article 7533. https://researchportal.ulisboa.pt/en/publications/worldwide-prevalence-and-demographic-predictors-of-impacted-third/

Faculty of Dental Surgery, Royal College of Surgeons of England. Parameters of Care for Patients Undergoing Mandibular Third Molar Surgery. Royal College of Surgeons of England, 2021. https://www.rcseng.ac.uk/-/media/files/rcs/fds/guidelines/3rd-molar-guidelines–april-2021-v2.pdf

Güven, O., A. Keskin, and U. K. Akal. “The Incidence of Cysts and Tumors Around Impacted Third Molars.” International Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, vol. 29, no. 2, 2000, pp. 131–135. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10833151/

Tinggalkan komentar